MATERI & LK 6 : STUDI KASUS BEP
BEP (break event point) / titik impas : sebuah keadaan ketika perusahaan berada pada titik antara tidak memperoleh keuntungan ataupun kerugian.
atau, dengan kata lain, BEP merupakan titik impas antara besaran jumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan dengan besaran jumlah laba yang diperoleh. Dalam hal ini, tentu terjadi keseimbangan sehingga perusahaan tidak memperoleh keuntungan ataupun kerugian.
Jenis Break Event Point (BEP)
Sebelum membahas cara menghitung BEP, ada baiknya ketahui terlebih dulu jenis-jenisnya.
- BEP Unit, yaitu penghitungan BEP yang dinyatakan dalam bentuk unit atau jumlah penjualan produk.
- BEP Rupiah, yakni penghitungan BEP yang dinyatakan dalam harga penjualan (Rupiah).
Komponen Break Event Point (BEP)
Ketika akan menghitung besaran BEP, ada beberapa komponen yang harus terlebih dulu Anda pahami, yaitu:
Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya yang harus tetap dikeluarkan dalam segala kondisi, bahkan meski perusahaan sedang tidak menjalankan proses produksi. Biaya ini biasanya meliputi biaya sewa tempat usaha, perlengkapan, dan hal pokok lainnya.
Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya variabel terbilang cukup dinamis bergantung pada besaran jumlah produksi atau jumlah barang terjual. Jika jumlahnya meningkat, maka biaya variabel pun akan bertambah. Misalnya, untuk setiap penjualan 1 unit barang, maka biaya variabel akan bertambah dengan hadirnya biaya nota penjualan, biaya packaging, biaya antar, ataupun biaya tambahan lainnya.
Harga Penjualan (Selling Price)
Harga jual dari barang atau jasa yang telah Anda produksi.
Cara Menghitung Break Event Point (BEP)
Sesuai dengan jenis BEP, berikut rumus untuk menghitungnya:
- Cara menghitung BEP dalam unit
BEP = FC / (P-VC)
- Cara menghitung BEP dalam rupiah
BEP = FC / (M/P)
Keterangan:
- BEP : Break Even Point
- FC : Fixed Cost (biaya tetap)
- VC : Variabel Cost (biaya variabel)
- P : Price per unit (harga jual per unit)
- M : Margin (selisish antara harga jual dan harga variabel per unit)
Komentar
Posting Komentar